Mengapresiasi Unsur Instrinsik dan Unsur Ekstrinsik Puisi Karangan Bunga

 

MENGAPRESIASI PUISI

"Puisi Karangan Bunga"

(karya Taufiq Ismail)

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
 
"Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami turut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi."

Puisi ini menggambarkan kedalaman emosi dan kepekaan terhadap tragedi yang dialami oleh tiga anak kecil. Mari kita jabarkan:

A.    Unsur  Instrinsik

1. Tema: Tema utama puisi ini adalah empati dan solidaritas terhadap korban kekerasan. Anak-anak itu mengungkapkan rasa dukacita mereka atas kematian kakak mereka yang tewas ditembak dengan memberikan karangan bunga.

2.  Bukti : pada bait kedua

“Ini dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan bunga

Sebab kami ikut berduka

Bagi kakak yang ditembak mati

Siang tadi.”

3. Gaya Bahasa: Gaya bahasa yang sederhana namun penuh makna mencerminkan kesederhanaan dan kepolosan anak-anak dalam menyampaikan perasaan mereka. Penggunaan "pita hitam pada karangan bunga" dapat dianggap sebagai metafora yang menunjukkan simbol kepedihan dan dukacita atas kematian.

4. Nada: Puisi menggunakan nada sedih, karena penyair mengarang puisi dalam keadaan bela sungkawa.

5. Rima: Puisi berima bebas.

a.       bukti:

Tiga anak kecil

Dalam langkah malu-malu

Datang ke Salemba

Sore Itu

“Ini dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan bunga

Sebab kami ikut berduka

Bagi kakak yang ditembak mati

Siang tadi.”

6. Diksi: Puisi menggunakan kata-kata denotasi (lugas) dan mudah dipahami.

7. Citraan: Dalam puisi ini menggunakan citraan penglihatan .Hal ini terdapat dalam"Tiga anak kecil melangkah malu-malu datang ke Salemba sore itu.”Citraan yang menggunakan Penglihatan karena tiga anak kecil melangkah hanya bisa dilihat.

8.  Suasana: Suasana yang ditampilkan adalah suasana duka yang mendalam, terutama saat anak-anak itu datang dengan langkah malu-malu untuk memberikan penghormatan terakhir bagi kakak mereka.

9. Pesan Moral: Puisi ini memberikan pesan moral tentang pentingnya empati dan dukungan di dalam masyarakat, terutama dalam menghadapi kejadian tragis seperti kematian yang tidak adil.

    Puisi ini menggugah perasaan empati dan mengajak kita untuk merenungkan         nilai-nilai kemanusiaan yang sangat penting dalam kehidupan kita.

        B. Unsur Ekstrinsik

                            mari kita apresiasi puisi ini berdasarkan unsur ekstrinsiknya, yaitu konteks diluar teks itu sendiri:

            Analisis unsur ekstrinsik Puisi Karangan Bunga Karya Taufik ismail

1.      Sudut Pandang

               Taufiq menggunakan dua sudut pandang di puisi ini. Di 4 baris pertama ia menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Tampak dari penggunaan kata ganti ‘Tiga anak kecil’ di baris pertama, yang sama artinya dengan ‘mereka’.

Sedangkan untuk 5 baris terakhir, Taufiq menggunakan sudut pandang orang pertama. Hal ini tergambar jelas dari penggunaan kata ‘kami’ di baris ke-5 dan ke-7, seolah-olah sang penulis juga merupakan salah satu dari tiga anak kecil tersebut.

2.      Simbolisme

Cukup banyak simbolisme yang digunakan di dalam puisi ini meskipun puisi ini tidak terlalu panjang. Dari judul saja ‘Karangan Bunga’ sudah menggambarkan duka yang terjadi dibalik penulisan puisi ini.

Berikutnya adalah penggunaan subyek ‘Tiga anak kecil’ yang digunakan untuk mewakili pihak-pihak tak bersalah dan tak tahu-menahu akan apa yang diketahui oleh mahasiswa-mahasiswa pendemo ini. Akan tetapi ‘tiga anak kecil’ ini mengerti tragedi apa yang sedang terjadi, yaitu penembakan. Kata ‘malu-malu’ yang digunakan pun semakin menegaskan kenaifan dan kepolosan anak-anak tersebut.

‘Pita hitam pada karangan bunga’ mewakili suasana duka yang ada. Seperti yang kita telah ketahui, saat seseorang meninggal pasti akan banyak karangan bunga duka cita yang diantar ke kediaman orang yang meninggal tersebut. Warna ‘hitam’ disini sengaja dipilih untuk mewakili kesedihan yang ada, sebab warna hitam merupakan simbol warna universal yang mewakili kesedihan, kehilangan, dan kepedihan.

Terakhir adalah simbol ‘siang tadi’ yang mewakili kejadian yang terjadi di siang hari sebelumnya, yaitu insiden penembakan mahasiswa oleh pasukan Tjakrabirawa di Istana Presiden. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, peristiwa ini terjadi karena adanya demonstrasi mahasiswa yang menuntut Tritura.

3.      Latar Belakang

·     Latar tempat: Puisi ini mengambil lokasi di Kampus UI Salemba, yang merupakan basis mahasiswa dalam mencanangkan aksi demonstrasinya menuntut Presiden Soekarno

·    Latar waktu: Ada dua latar waktu yang tersurat dalam puisi ini. Yang pertama adalah waktu sore hari dimana semua orang telah berkumpul di Salemba untuk berkabung, berduka atas meninggalnya Alm. Arief Rahman Hakim. Yang kedua adalah latar waktu di siang hari saat terjadi penembakan oleh pasukan Tjakrabirawa.

·    Latar suasana: Jelas tergambar suasana sedih dan berkabung dalam puisi ini. Suasana ini semakin jelas saat tiga anak kecil ini memberikan karangan bunga yang berpita hitam dan saat disebutkan bahwa ‘kakak’ tersebut mati ditembak.

    Tugas Teori dan Apresiasi Anak SD Oleh Kelompok 1:

Charel Afiska    : 23129014

Demara Fitri    : 23129017

Aulia Safitri    : 23129134

Atta Khairani    :23129132

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Identitas Diri

Pengertian Lupa dan Proses Terjadinya Lupa

Macam-macam Magnet dan Sifat-sifat Magnet